Sikap Mandiri untuk Sukses

Alkisah, ada seorang pemuda yang ingin belajar ilmu memahat dari seorang ahli pematung yang dikenal sangat indah karyanya. Si pemuda sangat ingin menjadi pematung karya-karya indah karena merasa dirinya cukup punya bakat.

Sampai di rumah di pematung, ternyata di sana sudah banyak murid yang juga memiliki niat yang sama dengan si pemuda. Singkatnya, kemudian di pemuda diterima untuk belajar di sana. Dan, sebagaimana murid baru di sana, semua orang yang ingin belajar harus memulai dari latihan dasar.

Dalam latihan dasar ini, teknik dasar mematung diajarkan. Pelatihannya terkesan monoton dan membosankan, karena tekniknya hanya diulang-ulang begitu-begitu saja. Karena itu, si pemuda yang merasa berbakat itu bermalas-malasan saja. Ia merasa dirinya sudah menguasai teknik dasar tersebut sehingga tak perlu terus-menerus melakukan hal yang sama. Apalagi, ia hanya diajari oleh beberapa asisten sang guru ahli pematung.

Karena bosan, ia pun pergi menemui sang guru ahli pematung. “Guru, aku merasa bosan dengan semua latihan yang diberikan yang begitu-begitu saja. Aku ingin langsung belajar dari Anda, untuk bisa membuat patung indah,” adunya pada Sang Guru.

“Baiklah, kalau itu maumu. Tapi, sebelumnya, kamu harus ikut tes yang aku berikan untuk bisa langsung naik kelas belajar mematung bersamaku,” jawab Sang Guru bijak, sembari mengambil beberapa alat mematung dan menunjuk sebongkah batu besar untuk dipahat sang murid. “Coba kaupahat batu ini, jika memang kamu merasa berbakat dan menguasai teknik dasar.”

Dengan bersemangat, si pemuda segera melakukan perintah gurunya. Diambilnya peralatan mematung tersebut dan segera dipahatnya batu besar yang ditunjuk gurunya. Batu itu meski terlihat sangat keras, ternyata teksturnya lembut. Maka, ketika si pemuda memahatnya dengan sekuat tenaga, beberapa bagian yang dipahat malah pecah tak beraturan. Begitu seterusnya hingga si pemuda putus asa.

“Aku tidak tahu tentang hal ini. Di desaku, sebagian orang memuji karyaku. Karena itu, aku ke sini untuk belajar lebih jauh agar karyaku lebih dikenal. Maka aku ingin belajar dari Guru sebagai pematung terbaik di negeri ini,” sebut si pemuda malu.

“Ketahuilah muridku. Memang, bisa jadi ada orang berbakat. Tapi, ia—bahkan aku dulu—harus mau belajar dari dasar, mau melatih terus kemampuannya hingga benar-benar mahir. Bahkan, hingga kini pun, aku terus mengasah kemampuanku. Inilah rahasiaku sebenarnya, bukan semata karena aku berbakat. Kini semua terserah padamu. Aku sudah memberi tahu rahasia ilmuku hari ini. Tergantung keputusanmu kini, apakah kamu mau terus belajar dan kembali ke kelas yang katamu membosankan tadi, atau kamu mau kembali ke desamu?”

Si pemuda sadar dan segera meminta maaf atas kelancangannya. Ia kini sadar, bahwa masih banyak ilmu tentang mematung yang belum dikuasainya. Ia bertekad untuk memperbaiki sikapnya dan memilih untuk bertahan belajar terus-menerus, untuk mencapai sukses sebagai pematung ternama sesuai yang diharapkannya.

The Cup of Wisdom

Kita diciptakan oleh Sang Mahakuasa dengan potensi masing-masing. Maka seharusnya kita menggali dan memaksimalkan potensi itu. Dan, kita harus menyadari hal tersebut agar kita menjadi mandiri, kuat, dan berkembang.

Saat kita kecil, kita memang perlu uluran tangan orangtua untuk belajar berjalan. Tapi, kita sendirilah yang harus terjatuh dan bangun lagi agar bisa berjalan dan berlarian. Begitu pula saat belajar bersepeda, kita sesekali memang harus dipegangi. Meski kemudian jatuh dan terluka, kita sendiri yang harus bangkit dan belajar kembali sampai menemukan titik keseimbangan sehingga bisa mengayuh sepeda sendiri.

Kemandirian inilah yang harus kita ciptakan. Kemampuan untuk survive harus kita latih dan asah, sehingga kita pun akan menjadi insan yang kuat menghadapi berbagai ujian, halangan, dan cobaan.

Kisah kali ini bisa menjadi refleksi bahwa kita sendiri yang akhirnya memutuskan untuk mau terus belajar atau tidak, mau terus berjuang atau tidak, mau terus maju atau tidak. Guru kita, dari orangtua di rumah hingga guru-guru di sekolah serta guru-guru kehidupan di sekitar, adalah bagian tak terpisahkan sebagai tempat kita mendapat banyak pengetahuan. Namun, tekad kita sendirilah yang bisa membuat semua ilmu itu bermanfaat untuk mencapai kesuksesan. “Kekuatan terbesar” untuk sukses, sebenarnya kita sendiri yang memutuskan, kita sendiri yang memilihnya!

Iklan
Perihal

seorang pemuda yang masih mencari jati dan berusaha untuk berbuat yang terbaik

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi, Pekerjaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kota Baru Purwokerto
Ikuti saya di Twitter
Statistik Blog
  • 73.747 hits
Data Kunjungan per 16-02-2017
Flag Counter
Kalender 2017
Maret 2016
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d blogger menyukai ini: