Penjelasan Tidak Nyambung Kemendikbud

Perhatikan kalimat berikut  “sekolah dilangsungkan selama delapan jam, yang mana didalamnya termasuk pendidikan agama di madrasah diniyah.” Lucu ? Faktanya anak tidak  bisa lagi belajar di madrasah karena tidak ada waktu karena pulang sekolah terlalu sore belum lagi diperjalanan pulang . kira -kira yang bersinergi itu yang mana karena statemen tenyata beda dengan kenyataan di lapangan. Apa benar guru madrasah ikut mengajar ke sekolah formal juga ? kan santri belajar di sekolah yang berbeda dan belum tentu sama . Banyak siswa madrasah yang mengundurkan diri itu lah yang terjadi. Kalau mau bersinergi apa dengan menutup madrasah secara tidak langsung ? Itu bukan sinergi tapi kanibalisme . Mari kita tunggu penjelasan lebih lanjut di berita selanjutnya .

Ada sedikit tambahan penjelasan

Di Sini Letak Gagal Paham Jokowi-Muhajir Atas Pendidikan di Desa

Loteng, NU Online
Kebijakan Mendikbud Muhadjir Efendi terkait sekolah lima hari tidak hanya memberangus program madrasah diniyah. Kebijakan ini juga akan menghancurkan seluruh sistem pembelajaran pondok pesantren yang sudah berjalan lama seperti ngaji sorogan dan kegiatan hafalan santri.

Hal ini dikatakan Ahmad Jumaili salah seorang Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak kepada NU Online, Kamis (10/8).

Jumaili menyebut ngaji sorogan atau mengaji kitab kuning langsung ke kiai atau tuan guru di pesantren adalah roh dari sistem pendidikan di pesantren.

“Ngaji sorogan ini biasanya dilakukan para santri setiap selesai shalat fardhu terutama setelah shalat ashar dan shalat isya setiap hari,” jelas Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo ini.

Jika FDS ini diterapkan, dapat dipastikan para santri yang bersekolah formal di pesantren akan kehilangan waktu-waktu sorogan. Padahal inilah waktu emas yang dimiliki santri untuk bertatap langsung dengan kiainya.

“Santri itu tidak sekadar menimba ilmu ke kiainya tapi juga menimba berkah karena kami percaya menatap wajah guru yang alim itu besar sekali pahalanya,” jelasnya.

Kebijakan FDS ini juga dikatakan Jumaili sebagai bentuk kegagalan paham Mendikbud Muhajir atas kondisi pendidikan di pedesaan.

Pendidikan di desa dan di kota kondisinya sangat jauh berbeda baik dari segi fasilitas, keadaan orang tua siswa maupun psikologi anak didiknya.

“Sekolah-sekolah di desa rata-minim fasilitas, lapangan olahraga saja tidak punya, apalagi kantin, terus di mana mereka makan, di mana mereka habiskan waktu sampai jam 4 sore?” katanya dengan nada tanya.

“Begitu juga orang tua atau wali siswa yang rata-rata bekerja sebagai petani atau nelayan. Bagi petani dan nelayan, hari kerja itu dari Senin sampai Senin lagi, tentu berbeda dengan pegawai negeri sipil yang punya hari libur segala,” jelasnya.

Anak-anak di desa usai sekolah bukan main-main seperti yang dikhawatirkan Muhadjir, tetapi justru kesempatan itu digunakan untuk membantu orang tua mereka bekerja.

“Jika alasanya 5 hari sekolah agar anak dan orang tua ada kesempatan bertemu, itu hanya cocok di anak-anak kota, anak anak desa justru bertemu setiap saat dengan orang tuanya, bahkan membantu orang tuanya bekerja,” urainya.

Berita sebelumnya ..

Kemendikbud: PPK Bukan untuk ‘Menutup’ Madrasah

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 10/8 (Antara) – Kementerdidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyatakan bahwa dengan adanya Program Penguatan Karakter (PPK) bukan berarti “menutup” madrasah diniyah.

“Jadi tidak benar, jika adanya PPK ini akan menutup madrasah diniyah. Malah yang sebenarnya terjadi, antara sekolah dan madrasah akan bersinergi dalam menyelenggarakan PPK,” ujar Sekjen Kemdikbud, Didik Suhardi, di Jakarta, Kamis.

Dia memberi contoh di sejumlah daerah yang sudah melaksanakan PPK di beberapa daerah. Contohnya di Siak, yang mana sekolah dan madrasah saling bersinergi. Selesai sekolah, kemudian dilanjutkan dengan madrasah. Sedangkan untuk makan siang juga disediakan oleh pemerintah daerah.

“Sekali lagi, tidak benar jika adanya PPK ini akan mengancam madrasah. Justru, saling bersinergi,” cetus dia.

PPK merupakan program pemerintah untuk menguatkan pendidikan karakter siswa. Dengan program ini, sekolah dilangsungkan selama delapan jam, yang mana didalamnya termasuk pendidikan agama di madrasah diniyah. Dengan PPK, sekolah hanya dilangsungkan selama lima hari.

“Progam ini juga erat kaitannya dengan menikmati keindahan alam Indonesia. Siswa bisa menikmati akhir pekannya berwisata di dalam negeri.”

Dia menambahkan pihaknya akan mewadahi penolakan terkait dengan PPK tersebut. Penerapan PPK itu, kata dia, sama sekali tidak ada paksaan akan diterapkan pada tahun ini.

“Hanya sekolah yang mau dan siap saja, yang menjalankan PPK,” tukas dia.

Kemdikbud pada 9 Juni menerbitkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Dalam peraturan tersebut, hari sekolah dilaksanakan selama lima hari atau 40 jam dalam seminggu. Hari sekolah dapat digunakan peserta didik untuk melaksanakan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Iklan
Perihal

seorang pemuda yang masih mencari jati dan berusaha untuk berbuat yang terbaik

Ditulis dalam Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kota Baru Purwokerto
Ikuti saya di Twitter
Statistik Blog
  • 11,821 hits
Data Kunjungan per 16-02-2017
Flag Counter
Kalender 2017
Agustus 2017
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d blogger menyukai ini: