Asmara Di Tengah Bencana Kapan Difilmkan BNPB ?

asmara-di-tengah-bencana-5959f1cbf492730716348474

Pada suatu malam saya tak sengaja menemukan chanel radio yang saat itu sedang menyiarkan sebuah sandiwara yang awalnya saya hanya iseng mendengarkan. Ternyata semakin hari saya semakin tertarik karena jalan ceritanya sangat bagus dan ternyata diperankan antara lain oleh tokoh yang membesarkan sandiwara di masa lalu seperti Ferry Fadli yang membesarkan nama Sembara dan Brama Kumbara. Saya awalnya tidak tahu chanel apa yang saya dengarkan akhirnya tahu itu Radio Thomson Cilacap yang ternyata rutin menyiarkan setiap episode setiap jam 19.00 WIB .

Dari berbagai sumber yang saya telusuri Sandiwara radio ini merupakan salah satu program yang dikeluarkan BNPB dalam rangka kampanye atau sosialisasi penanggulangan bencana .

Saya sudah sejak lama menjadi pendengar radio yang saat ini sebenarnya hampir ditinggalkan sebaian besar penggemar karena perkembangan teknologi . Tapi saya yakin Radio masih punya market tersendiri . Saya pun menyadari bahwa ada saatnya saya harus offline dari dunia maya demi alasan psikologis dan kesehatan . Nah salah satu cara saya mengisi kegiatan saat offline yaitu dengan menyimak berbagai info yang positif dari radio.

Nah kembali ke Sandiwara Radio Asmara di tengah bencana , saya memiliki harapan besar kepada BNPB agar mengangkatnya ke film karena saat ini kita butuh hiburan dan tononan berkualitas. Kebanyakan acara TV disesaki acara alay dan kurang mendidik belum lagi dunia film juga umumnya kalau tidak horor ya daur ulang cerita lama seperti saur sepuh dan sebagainya.

Saya yakin Asmara Di Tengah Bencana bisa mengkangkat kejayaan Film Indonesia.

BNPB Rilis Sandiwara Radio “Asmara di Tengah Bencana”

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali merilis sandiwara radio “Asmara di tengah Bencana” (ADB) episode 2 yang mulai siar pada Rabu (7/7/2017). BNPB memanfaatkan sandiwara radio untuk mengkampanyekan budaya sadar bencana secara luas kepada masyarakat.

Sehubungan dengan media radio, Kepala BNPB Willem Rampangileimengatakan bahwa BNPB memanfaatkan radio karena media ini berbiaya rendah, khususnya tepat untuk menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.  Radio sangat efektif dalam memberikan informasi kepada masyarakat yang terdampak bencana ketika alat komunikasi lain tidak berfungsi.

“ADB mendulang sukses pada penyiaran pertama tahun lalu. Tingginya ketertarikan masyarakat mendorong BNPB untuk melanjutkan ADB episode dua pada tahun ini. Radio juga dapat digunakan sebagai penyambung hidup atau lifeline ketika krisis dan saat bencana terjadi,” kata Willem pada peluncuran ADB episode, dalam keterangan tertulis, Selasa (6/6/2017).

Di sisi lain, sutradara ADB Haryoko menyampaikan bahwa masyarakat dewasa ini mulai meninggalkan media radio seiring perkembangan televisi. Haryoko mengatakan bahwa pada 1990-an masa sandiwara radio menjadi primadona di Indonesia.

Pengamat Komunikasi Politik Effendi Gazali. Menurut Effendi, media radio memiliki keunggulan sendiri. Dalam sandiwara radio juga menunjukkan setiap individu memiliki imajinasi seperti karakter atau pun fisik, terhadap tokoh dalam sandiwara radio tersebut.

“Melalui siaran radio, pendengar memiliki ‘hak cipta’ sendiri (terhadap para tokoh dalam sandiwara radio),” kata Effendi.

Sementara itu BNPB menyiarkan ADB ini bekerja sama dengan 80 stasiun radio, 60 stasiun radio swasta dan 20 radio komunitas. Kedelapan puluh stasiun tadi tersebar di 20 provinsi. Sandiwara radio ADB sebelumnya mencatat sukses dengan 43 juta pendengar yang kala itu tersiar di 20 stasiun radio.

 

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi

Penjelasan Tidak Nyambung Kemendikbud

Perhatikan kalimat berikut  “sekolah dilangsungkan selama delapan jam, yang mana didalamnya termasuk pendidikan agama di madrasah diniyah.” Lucu ? Faktanya anak tidak  bisa lagi belajar di madrasah karena tidak ada waktu karena pulang sekolah terlalu sore belum lagi diperjalanan pulang . kira -kira yang bersinergi itu yang mana karena statemen tenyata beda dengan kenyataan di lapangan. Apa benar guru madrasah ikut mengajar ke sekolah formal juga ? kan santri belajar di sekolah yang berbeda dan belum tentu sama . Banyak siswa madrasah yang mengundurkan diri itu lah yang terjadi. Kalau mau bersinergi apa dengan menutup madrasah secara tidak langsung ? Itu bukan sinergi tapi kanibalisme . Mari kita tunggu penjelasan lebih lanjut di berita selanjutnya .

Ada sedikit tambahan penjelasan

Di Sini Letak Gagal Paham Jokowi-Muhajir Atas Pendidikan di Desa

Loteng, NU Online
Kebijakan Mendikbud Muhadjir Efendi terkait sekolah lima hari tidak hanya memberangus program madrasah diniyah. Kebijakan ini juga akan menghancurkan seluruh sistem pembelajaran pondok pesantren yang sudah berjalan lama seperti ngaji sorogan dan kegiatan hafalan santri.

Hal ini dikatakan Ahmad Jumaili salah seorang Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak kepada NU Online, Kamis (10/8).

Jumaili menyebut ngaji sorogan atau mengaji kitab kuning langsung ke kiai atau tuan guru di pesantren adalah roh dari sistem pendidikan di pesantren.

“Ngaji sorogan ini biasanya dilakukan para santri setiap selesai shalat fardhu terutama setelah shalat ashar dan shalat isya setiap hari,” jelas Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo ini.

Jika FDS ini diterapkan, dapat dipastikan para santri yang bersekolah formal di pesantren akan kehilangan waktu-waktu sorogan. Padahal inilah waktu emas yang dimiliki santri untuk bertatap langsung dengan kiainya.

“Santri itu tidak sekadar menimba ilmu ke kiainya tapi juga menimba berkah karena kami percaya menatap wajah guru yang alim itu besar sekali pahalanya,” jelasnya.

Kebijakan FDS ini juga dikatakan Jumaili sebagai bentuk kegagalan paham Mendikbud Muhajir atas kondisi pendidikan di pedesaan.

Pendidikan di desa dan di kota kondisinya sangat jauh berbeda baik dari segi fasilitas, keadaan orang tua siswa maupun psikologi anak didiknya.

“Sekolah-sekolah di desa rata-minim fasilitas, lapangan olahraga saja tidak punya, apalagi kantin, terus di mana mereka makan, di mana mereka habiskan waktu sampai jam 4 sore?” katanya dengan nada tanya.

“Begitu juga orang tua atau wali siswa yang rata-rata bekerja sebagai petani atau nelayan. Bagi petani dan nelayan, hari kerja itu dari Senin sampai Senin lagi, tentu berbeda dengan pegawai negeri sipil yang punya hari libur segala,” jelasnya.

Anak-anak di desa usai sekolah bukan main-main seperti yang dikhawatirkan Muhadjir, tetapi justru kesempatan itu digunakan untuk membantu orang tua mereka bekerja.

“Jika alasanya 5 hari sekolah agar anak dan orang tua ada kesempatan bertemu, itu hanya cocok di anak-anak kota, anak anak desa justru bertemu setiap saat dengan orang tuanya, bahkan membantu orang tuanya bekerja,” urainya.

Berita sebelumnya ..

Kemendikbud: PPK Bukan untuk ‘Menutup’ Madrasah

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 10/8 (Antara) – Kementerdidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyatakan bahwa dengan adanya Program Penguatan Karakter (PPK) bukan berarti “menutup” madrasah diniyah.

“Jadi tidak benar, jika adanya PPK ini akan menutup madrasah diniyah. Malah yang sebenarnya terjadi, antara sekolah dan madrasah akan bersinergi dalam menyelenggarakan PPK,” ujar Sekjen Kemdikbud, Didik Suhardi, di Jakarta, Kamis.

Dia memberi contoh di sejumlah daerah yang sudah melaksanakan PPK di beberapa daerah. Contohnya di Siak, yang mana sekolah dan madrasah saling bersinergi. Selesai sekolah, kemudian dilanjutkan dengan madrasah. Sedangkan untuk makan siang juga disediakan oleh pemerintah daerah.

“Sekali lagi, tidak benar jika adanya PPK ini akan mengancam madrasah. Justru, saling bersinergi,” cetus dia.

PPK merupakan program pemerintah untuk menguatkan pendidikan karakter siswa. Dengan program ini, sekolah dilangsungkan selama delapan jam, yang mana didalamnya termasuk pendidikan agama di madrasah diniyah. Dengan PPK, sekolah hanya dilangsungkan selama lima hari.

“Progam ini juga erat kaitannya dengan menikmati keindahan alam Indonesia. Siswa bisa menikmati akhir pekannya berwisata di dalam negeri.”

Dia menambahkan pihaknya akan mewadahi penolakan terkait dengan PPK tersebut. Penerapan PPK itu, kata dia, sama sekali tidak ada paksaan akan diterapkan pada tahun ini.

“Hanya sekolah yang mau dan siap saja, yang menjalankan PPK,” tukas dia.

Kemdikbud pada 9 Juni menerbitkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Dalam peraturan tersebut, hari sekolah dilaksanakan selama lima hari atau 40 jam dalam seminggu. Hari sekolah dapat digunakan peserta didik untuk melaksanakan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Ditulis dalam Pendidikan

FAEDAH BACA ALQURAN TANPA PAHAM ARTINYA

Ada seorang remaja bertanya kepada kakeknya:

“Kakek, apa gunanya aku membaca Al qur’an, sementara aku tidak mengerti arti dan maksud dari Al qur’an yang kubaca “.

Lalu si kakek menjawabnya dengan tenang:
“ Cobalah ambil sebuah keranjang sampah ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku dengan sekeranjang air. “

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tapi semua air yang dibawanya jatuh habis, sebelum ia sampai di rumah.

Kakeknya berkata:
“Kamu harus berusaha lebih cepat “

Kakek meminta cucunya kembali ke sungai. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong (tanpa air) sebelum sampai di rumah.

Dia berkata kepada kakeknya:
“ Tidak mungkin aku bisa membawa sekeranjang air. Aku ingin menggantinya dengan ember “.

“Aku ingin sekeranjang air, bukan dengan ember “ Jawab kakek.

Si anak kembali mencoba, dan berlari lebih cepat lagi. Namun tetap gagal juga. Air tetap habis sebelum ia sampai di rumah. Keranjang itu tetap kosong.

“Kakek…ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Air pasti akan habis di jalan sebelum sampai di rumah“

Kakek menjawab:
“Mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik apa yang terjadi dengan keranjang itu “

Anak itu memperhatikan keranjangnya, dan ia baru menyadari bahwa keranjangnya yang tadinya kotor berubah menjadi sebuah keranjang yang BERSIH, luar dan dalam.

“Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti sama sekali. Tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu sadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupanmu…!”

Subhanallah..Tidak ada yang sia-sia ketika kita membaca Al Qur’an.

Mari kita lebih sering lagi membacanya. Meski kadang tidak tahu “arti” nya, namun tetap harus berusaha untuk memahami “arti” nya

“ALLAHUMMA Ya Allah rahmatilah hidup kami dg Alqur’an, dan jadikanlah Alqur’an itu imam, cahaya, hidayah dan rahmat untuk kami dan keluarga kami..Aamiin”

Subhanallah…
Semoga yang “membagikan” tausiyah ini semua dosanya diampuni Allah, diangkat derajatnya, dikabulkan segala hajatnya dan mendapatkan pasangan yang sakinah serta anak yang sholeh/sholeha hingga bisa masuk surga melalui pintu mana saja yang dikehendaki. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Repost dari Syarifah I

Ditulis dalam agama

Mari Belajar Puasa Gadget

Berapa jam yang Anda habiskan untuk menatap layar telepon, laptop atau komputer? Selama puasa Ramadhan, ada baiknya juga kita mulai puasa dari segala peralatan canggih yang menyita waktu.

Adam Alter, psikolog dari New York University, telah lima tahun meneliti efek menatap layar pada hidup kita dan berapa banyak waktu yang terbuang karenanya. Di TED 2017, dia mempresentasikan hasil penelitiannya dalam tiga grafik. Dia menunjukkan penyebab kita merasa tak punya waktu luang adalah karena kita memang tidak memilikinya.

Dibandingkan 10 tahun lalu, kita menghabiskan jauh lebih banyak waktu memelototi layar komputer, telepon, tablet dan televisi sekarang. Pada 2007, kita relatif menghabiskan sedikit dari waktu luang untuk gadget, tapi pada 2017 perangkat canggih nyaris mengambil seluruh waktu senggang.

Alter menunjukkan waktu yang kita habiskan untuk tidur, bekerja atau kegiatan lain seperti makan dan mencuci tidak banyak berubah dalam satu dekade terakhir. Namun, ia melanjutkan, waktu yang kita habiskan di depan layar tempat kita memainkan gim, membaca berita, menonton pertunjukan atau bersosial media jauh berubah.

Alter mengatakan layar “sudah merampok isyarat berhenti” kita dengan distraksi dan hiburan konstan, tidak seperti koran yang selesai ketika halaman terakhir sudah dibaca, layar perangkat tidak punya penanda waktu jelas untuk berhenti, karenanya kita tidak berhenti.

Dia menambahkan kita menghabiskan sekitar sembilan menit sehari untuk aplikasi yang membuat kita merasa senang, misalnya yang berhubungan dengan kesehatan atau cuaca. Itu jauh lebih singkat ketimbang 27 menit waktu yang dihabiskan untuk aplikasi yang “membuat kita merasa lebih buruk” seperti gim atau Tinder atau aplikasi-aplikasi baru.

Solusinya, kata Alter, tentukan jadwal spesifik untuk puasa dari gadget dan menggiatkan lagi kebiasaan lama. Pada dasarnya, menurut dia, kita kecanduan dengan layar-layar kita dan membatasi penggunaannya akan terasa seperti bentuk penarikan diri

“Kalian akan terbiasa dengan itu. Kau akan mengatasi penarikan seperti yang akan kau lakukan pada narkoba, dan hidup akan menjadi lebih berwarna dan lebih kaya,” kata Alter sebagaimana dikutip Business Insider.

Sumber : antara, REPUBLIKA
Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi

Waktu Online Anak Seperti Junkfood

Anak bermain gadget

Dalam sebuah wawancara bersama Pengamat Anak Anne Longfield yang dilakukan BBC, orang tua harus bisa mengintervensi anak untuk berhenti online. Sebab, ketika anak-anak online sama seperti sedang mengonsumsi makanan junkfood. Khususnya media sosial yang berkontribusi besar bagi anak untuk menghabiskan waktu online lebih banyak.

Longfield mengatakan, orang tua harus lebih aktif untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Anak-anak akan semakin lengket dengan dunia maya ketika liburan tiba. Itu sebabnya Longfield meluncurkan kampanye untuk membantu para orang tua yang tidak bisa melepaskan anaknya dari gadget.

“Tidak ada orang tua yang ingin anaknya mengonsumsi junkfoodsetiap saat,” jelas Longfield.

Ketika ponsel, media sosial, dan gim menjadi kebutuhan sehingga takut kehilangan hal tersebut maka hidup sudah tak seimbang. Tahun lalu sebuah industri bernama Watchdog Ofcom mengatakan bahwa internet sudah mengambil alih televisi dan menjadi media paling populer bagi anak-anak di Inggris. Anak-anak usia di bawah 15 tahun rata-rata online lebih dari 15 jam per minggu.

Longfield menjelaskan, anak-anak harus ditolong untuk ke luar dari dunia online. Kemudian anak harus diberi pengertian untuk tidak melanjutkan online, dan efek yang akan mereka dapatkan dari kegiatan tersebut. Salah satu contoh, ada sebuah studi tahun lalu mengenai screen time dan mental remaja bisa dibentuk dari perangkat yang mereka punya. Hal tersebut tentu berbahaya bagi perkembangan karakter anak.

sumber Republika

Ditulis dalam Keluarga

Bukan IQ yang Buat Orang Sukses

Ekonom James Heckman mengatakan IQ bukan menjadi faktor penting untuk menjadi sukses. Ia bertanya kepada ilmuwan dan non-ilmuwan, terutama politisi dan pembuat kebijakan. Ia bertanya berapa banyak perbedaan antara pendapatan orang jika dikaitkan dengan IQ.

“Paling menebak sekitar 25 persen, bahkan 50 persen. Tapi data justru menunjukkan IQ memiliki pengaruh sangat kecil, hanya 1-2 persen,” katanya.

Jadi, jika IQ hanya merupakan faktor minor dalam kesuksesan, apa yang membedakan orang berpenghasilan rendah dari yang tinggi? Atau, seperti kata pepatah Jika Anda sangat pintar, mengapa Anda tidak kaya?

Seperti dilansir dari laman Independent, Selasa (8/8), Ilmu pengetahuan tidak memiliki jawaban pasti, walaupun keberuntungan tentu memainkan peran. Tapi faktor kunci lainnya adalah kepribadian.

Hal ini terungkap dalam sebuah makalah yang ditulis Heckman dalam Prosiding National Academy of Sciences bulan lalu. Ia menemukan kesuksesan finansial berkorelasi dengan conscientiousness, ciri kepribadian yang ditandai dengan ketekunan, ketekunan dan disiplin diri.

Untuk mencapai kesimpulan tersebut, dia dan rekannya memeriksa empat kumpulan data yang berbeda, yang antara keduanya termasuk nilai IQ, hasil tes standar, penilaian nilai dan kepribadian untuk ribuan orang di Inggris, Amerika Serikat dan Belanda. Beberapa kumpulan data mengikuti orang selama beberapa dekade, tidak hanya melacak pendapatan tapi juga catatan kriminal, indeks massa tubuh dan kepuasan hidup yang dilaporkan sendiri.

Studi tersebut menemukan bahwa nilai dan hasil uji prestasi merupakan prediktor kesuksesan orang dewasa yang lebih baik daripada nilai IQ. Itu mungkin mengejutkan.

Kelas tidak hanya mencerminkan kecerdasan tapi juga apa yang Heckman sebut sebagai “keterampilan non-kognitif,” seperti ketekunan, kebiasaan belajar yang baik dan kemampuan untuk berkolaborasi – dengan kata lain, ketaatan.

Heckman, yang memiliki Hadiah Nobel pada tahun 2000 dan merupakan pendiri Pusat Ekonomi untuk Pengembangan Ekonomi Universitas Chicago, percaya kesuksesan tidak hanya pada kemampuan bawaan namun juga pada keterampilan yang dapat diajarkan.

sumber REPUBLIKA

Ditulis dalam Pendidikan

Ponsel Penyebab Depresi

Keberadaan ponsel selain memberikan kemudahan mengatur kegiatan sehari-hari, juga mempunyai dampak negatif. Merujuk pada artikel The Atlantic, disebutkan remaja yang tumbuh di zaman ponsel pintar, rentan terserang depresi atau berpikiran untuk mengakhiri hidup.

Penulis dalam penelitian ini, Jean M. Twenge, meneliti mereka yang lahir pada 1995-2012, diberi nama iGen. iGen adalah mereka yang tidak pernah terputus dari koneksi internet selama hidup mereka. Twenge berpendapat ponsel yang menyebabkan mereka rentan depresi dibandingkan Milenial.

Salah satu penyebabnya adalah iGen terhubung dengan teman-teman mereka secara digital.  Terlalu sering mengakses ponsel dapat berakibat seseorang merasa tidak nyaman ketika harus berhadapan langsung.

Seorang anak perempuan berusia 13 tahun, yang menjadi subjek penelitian, sudah memiliki iPhone sejak ia berusia 11.

“Kami lebih suka ponsel dari pada orang betulan,” kata dia.

Penelitan itu mengungkap anak usia kelas delapan, sekitar 14-15 tahun, yang menghabiskan lebih dari 10 jam seminggu di media sosial cenderung 56 kali merasa tidak bahagia dibandingkan teman-teman mereka yang jarang mengaksesnya.

Mereka yang selama 6-9 jam berada di media sosial dalam seminggu kemungkinan 47 persen merasa tidak bahagia. Angka kebahagiaan berlaku sebaliknya. Mereka yang berada di atas rata-rata menghabiskan waktu bersama teman, 20 persen merasa tidak bahagia.

Dengan kata lain, penelitian ini menyimpulkan semakin banyak remaja menghabiskan waktu di depan layar, semakin besar kemungkinan mereka merasa depresi.

Sumber : REPUBLIKA,  Antara
Ditulis dalam Masalah

Asrinya Jalan Desa

img_20170808_174317.jpgimg_20170808_174317_1.jpg

Suasana menjelang magrib di dekat Situ Bemban desa Kedungwringin Kecamatan Jatilawang. Ini adalah salah satu jalan desa favorit saya. Saya sangat menyukai suasana ini , suasana asri berupa banyaknya pepohonan kayu di tepi kiri dan kanan jalan yang melintas di antara persawahan. Biasanya pohon yang tumbuh sejenis johar yang berbunga kekuningan sangat indah  jika sedang musim .

Tak hanya ruas jalan ini tapi di tempat lain juga banyak suasana yang serupa seperti di jalan penghubung desa Margasana dan Purwojati atau Kedungwringin dan Bantar dan sebagainya.

Dulu saat saya kecil saya teingat ruas jalan di persawahan antar desa Tinggarjaya dan Bantar waktu itu ditanam pohon Turi tapi sayang saat ini tampaknya tidak ada lagi.

Saya berharap jalan yang asri khas alam pedesaan ini tetap dipertahankan dan dianggap sebagai kekayaan atau kearifan lokal meskipun pelan tapi pasti lahan lahan di daerah ini suatu saat nanti akan tumbuh berkembang menjadi perumahan atau desa baru dan bahkan bisa menjadi kota.

Jangan sampai hanya sampai pada generasi kita yang dapat menikmati keindahannya sedangkan generasi yang akan datang hanya dapat melihat foto atau lukisan atau bahkan mendengar ceritanya. salam dari desa.

Ditulis dalam Info Banyumas

Musim Kemarau Musim Tanam Kedelai

img_20170809_054443_1.jpgimg_20170809_054443.jpg

Pagi hari saya melewati area persawahan di desa Adisara kecamatan Jatilawang kabupaten Banyumas yang sudah dipanen padinya. Ketika saya amati ternyata banyak ditanami kedelai di celah celah bekas tanaman padi yang telah dipotong.

Tampaknya ini pertanda bahwa petani setempat sudah memperhitungkan datangnya musim kemarau dimana air sangat sulit didapat. Memang tanaman kedelai bisa bertahan meskipun pasokan air seadanya berbeda dengan padi.

Jadi ingat tahun lalu kedelai menjadi persoalan serius negara ini karena terjadi kasus kelangkaan pasokan berimbas pada naiknya harga produk olahan yang notabene menjadi makanan utama kalangan menengah kebawah, apalagi kalau bukan tempe , tahu belum lagi  olahan khas daerah tetentu seperti Banyumas yang memproduksi ranjem, dage atau bongkrek itu juga ikut terkena imbasnya. Bukan hanya itu usaha rumahan susu kedelai juga bahkan usaha perusahan besar pembuat kecap . Padahal kecap sangat dibutuhkan dalam dunia kuliner yang tentu saja sangat bersentuhan dengan usaha rakyat seperti mie ayam , bakso sampai warung makan. Tentu makin melengkapi naiknya inflasi .

Informasinya khusus kabupaten Banyumas sudah merencanakan menyiapkan lahan untuk tanaman kedelai sehingga diharapkan menjadi salah satu sentra pemasok kedelai.  Dan usaha tanam kedelai milik rakyat seperti yang ada di desa ini sudah saatnya mendapat perhatian pemerintah perlu dibantu dan diberdayakan lebih intens lagi. Semoga Kabupaten Banyumas bisa menjadi salah satu sentra kedelai yang bermutu .

 

Ditulis dalam Info Banyumas

Tidak Menyerah

Repost Restoran Taman Pringsewu

Semangat pagi sobat Pringsewu,

sharing pagi ini seputar sikap terus berusaha, asalkan Anda TIDAK MENYERAH!

“Kalau gini sih sama aja maksudnya terus berjuang dan tidak menyerah”, kata Anda bukan?!

Dan MEMANG BENAR! Intinya Anda tidak menyerah. Bukankah itu RUMUS yang seluruh orang sukses didunia katakan pada Anda dan saya bukan?! Lalu apa hubungannya dengan judul diatas? Sederhana saja. Mari kita bernostalgia kemasa kanak-kanak kita sebentar.

Saat Anda pertama kali belajar sepeda, berapa kali Anda jatuh dan rasanya ingin berhenti?
Saat Anda pertama kali belajar berenang, berapa kali Anda hampir tenggelam dan terminum airnya?
Saat Anda pertama kali belajar make-up, berapa kali Anda merasa tidak cocok sampai akhirnya menjadi pintar?
Saat Anda pertama kali belajar memasak, berapa kali masakan Anda tidak jadi atau hanggus karenanya?

Dan, ketika Anda sudah coba berkali-kali dan masih belum berhasil, lalu Anda berkata pada diri sendiri, “Sepertinya gue tidak akan bisa, tetapi gak papalah, gue coba yang terakhir kalinya”, tanpa Anda sadari Anda justru BERHASIL.

Kok bisa ya? Tentu saja BISA! Itu karena Anda telah gagal sementara dan belajar darinya sehingga Anda menjadi bisa. Itulah arti kata TIDAK MENYERAH! Dan sesungguhnya Anda telah menyadarinya dan mengetahuinya tanpa Anda menyadarinya ataupun mengetahuinya.

Buktinya Anda masih MAU MENCOBA dan BERUSAHA.

Seringkali penyesalan terbesar dalam hidup kita bukanlah karena kita gagal, tetapi lebih sering pada karena TIDAK MAU MENCOBA LAGI SEKALI LAGI. Dan ketika orang lain berhasil melakukannya, kita malah menyalahkan orang lain bahwa mereka beruntung dan menyalahkan diri sendiri dengan ALASAN-ALASAN yang luar biasa.

Padahal, orang lain yang berhasil melakukannya mungkin kegagalannya dan perjuangannya yang tidak kenal kata menyerah berpuluh-puluh bahkan ribuan kali lipat dibandingkan dengan kita. Memang ada yang terlihat begitu instan, tetapi hampir semuanya mencapainya dengan perjuangan yang tidak mudah.

Tetapi, ketika Anda telah sampai dipuncaknya, Anda akan berkata, “Untunglah saya tidak menyerah atau berhenti sebelumnya, kalau tidak saya pasti akan sangat menyesalinya”.

Ada satu kalimat dari salah satu cerita silat yang saya sukai dan ingin saya bagikan. Ceritanya pada saat itu perang sudah selesai, semua memasuki masa-masa damai. Tetapi ada satu bapak tua yang terus mengasah pedangnya.

“Wahai bapak tua, perang sudah selesai, mengapakah bapak masih mengasah pedang bapak? Apakah bapak tidak suda masa damai ini?”, tanya sekelompok pemuda yang lewat didepan rumahnya. Bapak tua ini tersenyum. Jawabnya.

“Wahai anak muda, aku mengasah pedangku bukan untuk berperang dan bukan karena aku suka perang juga. Aku mengasah pedangku agar selalu tajam. Aku sudah tua, sekalipun ada penyerang yang datang, aku juga tidak bisa apa-apa”.

“Tetapi ingatlah ini anak muda, sekalipun aku tidak bisa apa-apa, aku mempunyai pedang yang tajam. Jika ada penyerang yang ingin menyerang aku, dia akan berpikir dahulu sebelum menyerangku. Aku melakukannya karena aku mempersiapkan diriku untuk kemungkinan terburuk”.

“Masa damai itu indah, tetapi seperti langit yang tidak selamanya cerah, bunga yang tidak selamanya merah, Anda harus mempersiapkannya dan berani untuk menghadapinya. Ketika Anda hanya menunggu, Anda telah terlambat dan kalah”

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi, Masalah
Statistik Blog
  • 8,065 hits
Data Kunjungan per 16-02-2017
Flag Counter
Kalender 2017
Agustus 2017
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Ikuti saya di Twitter