Kebun Vertikal Solusi Jitu Perbaiki Kualitas Udara Perkotaan

Taman vertikal di kota besar yang minim lahan terbuka, kini dilirik jadi solusi atasi polusi udara. Penelitian buktikan, kehijauan di kota mampu filter partikel berbahaya, sekaligus menyuplai oksigen bagi warga urban.

Kehijauan mengganti warna kelabu gedung bertingkat. Ibarat hutan vertikal, yang tumbuh di fasad bangunan. Tumbuhan hijau di gedung bertingkat menjadikan kota besar lebih atraktif. Arsitek dan penata kota di seluruh dunia sudah lama menyadari efek ini.

Terutama di kota-kota besar, tanaman amat penting. Pasalnya di musim panas, suhu di kota lebih panas ketimbang desa. Tembok telanjang menyimpan panas. Sementara fasad hijau justru menyejukan. Tapi di Eropa, suhu tinggi di saat musim panas, sering berarti juga kekeringan. Menyiram fasad gedung tinggi bukan hal mudah. Taman vertikal perlu solusi berbeda. Tembok percobaan di kota Oberhausen bahan bangunannya merupakan bagian daris sistem irigasi.

Wolfgang Hante, pakar batako batu pasir kapur mengatakan“Batako punya sifat positif. Cepat menyerap dan menguapkan lagi air. Kami manfaatkan prinsip ini dengan mengairi batako, yang meneruskan kelembaban pada tanah, hingga tanaman bisa diairi optimal.”

 

Berkebun diantara Beton dan Puing

Tembok kembalikan alam ke kota

Justru tembok yang akan membantu, agar alam kembali ke kota. Taman-taman hijau di kota makin banyak dibangun. Nilai taman sebagai tempat bersantai…

…tak bisa digantikan kehijauan fasad bangunan. Walau begitu, taman vertikal membantu memperbaiki kualitas udara.

Pasalnya, lewat pori-pori di bagian bawah daun, tanaman menyerap nitrogen oksida dan karbon dioksida dari lingkungan dan memproduksi oksigen. Jadi fungsinya seperti filter sekaligus penyegar udara. Sebuah fungsi penting di kota besar, dimana udaranya tercemar gas beracun serta partikel mikro lainnya.

Bahkan kawasan industri, bisa dibuat lebih nyaman lewat tanaman hijau. Di pabrik inilah diproduksi komponen pengairan untuk tembok hijau. Tembok hijau ini mengembalikan sepetak alam dan sekaligus menangkap unsur berbahaya dari udara.

Dr. Holger Wack, pakar lingkungan Institut Fraunhofer UMSICHT menjelaskan: “Bisa jadi partikel halus melekat di permukaan ini. Misalnya permukaan daun ini menangkap partikel halus dari udara. Lahan hijau ini memungkinkan serangga, burung, laba-laba dan binatang kecil lainnya hidup. Dimana di kawasan urban atau industri tak ada lagi habitatnya. Hewan ini bisa menemukan habitatnya di sistem teknik yang kami buat.”

Ujicoba tanaman di tembok

Sejak tiga tahun mitra proyek mengujicoba, tanaman mana yang mudah tumbuh di tembok. Hasilnya, di sisi yang terkena cahaya matahari, tumbuhan berkembang subur di kawasan industri, layaknya di kawasan laut tengah.

“Bagian ini menghadap ke selatan dan paling banyak terpapar matahari. Kami mencoba menanam beragam herbal. Ada kemangi, mint, tomat, bawang putih atau sawi putih. Pegawai kami sangat senang, karena di sini tiba-tiba ada yang bisa dipanen”, ujar pakar batako ramah lingkungan Wolfgang Hante.

Taman vertikal adalan sebuah konsep untuk mengembalikan alam ke kota-kota besar. Lahan horizontal juga sudah lama diincar oleh pakar penghijauan kota. Taman di atap bangunan memang hanya berpengaruh kecil pada iklim mikro, tapi taman semacam ini selain untuk bersantai, juga bisa menyuplai makanan.

Apakah taman vertikal atau kebun horizontal, tak jadi masalah. Pada intinya lahan hijau di perkotaan jauh lebih baik dan berguna dibanding rimba beton yang kelabu.

(DW Inovator)

http://www.dw.com/id/kebun-vertikal-solusi-jitu-perbaiki-kualitas-udara-perkotaan/a-42464743

Iklan
Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi

Antara Teks dan Konteks

Cuplikan tweet Prof. Nadirysah Hosen semoga bisa membuat kita lebih paham akan makna-makna yang saat ini banyak diperdebatkan. Marilah kita lebih arif dalam beragama, jangan terlalu kaku dan mengklaim bahwa pendapat orang atau kelompok yang tak sepaham dengan dirinya itu pasti salah dan sesat. Semoga kita terhindar dari perilaku itu.

Islam yang tekstual dan konteksual

1. Memahami Islam tidak cukup hanya lewat teks, tapi juga harus memahami konteks. Keduanya harus dipahami dan tidak bisa ditinggalkan. Kita simak yuk kajian pagi ini.

2. Kalau anda melulu melihat teks maka anda akan terpaku dengan teks dan memutar kembali jarum sejarah ke jaman onta. Kalau anda hanya berpegang pada konteks dan melupakan teks maka anda akan seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

3. Sebaik-baik urusan itu yang berada di tengah: memahami teks sesuai konteksnya. Kalau ini yang anda lakukan, maka anda dapat mempertahankan nilai lama yang masih relevan dan terus membuka diri untuk menerima ide dan gagasan baru yang lebih baik.

4. Inilah pegangan para Kiai di pesantren: al-muhafazah ‘alal qadimis shalih wal akhzu bil jadidil ashlah. Para Kiai itu tidak literal dan juga tidak liberal.

5. Dengan menguasai qawa’id ushuliyah dan qawa’id fiqhiyah, para Kiai terlatih untuk bisa “nyetel” dengan pas antara wahyu dan akal; teks dan konteks; Nash dengan budaya; mantuq dan mafhum; azimah dan rukhsah’; serta dalalah dan maqashid.

6. Cara berpikir ‘wasatiyyah’ ini membuat para Kiai tidak kesulitan menempatkan diri dalam perubahan jaman. Saya ingin beri contoh: Masih banyak saudara2 kita yang 100% hendak mengikuti setiap tindakan dan perilaku Nabi dari soal cara berpakaian sampai cara makan dan tidur

7. Tentu tidak keliru kalau mau mengikuti Nabi dalam segala hal, namun bahanyanya bagi mereka yang mengikuti secara tekstual adalah sering menganggap orang lain kurang islami atau kurang nyunnah kalau mengikuti Nabi secara kontekstual.

8. Syekh Mahmud Syaltout berkata bhw tindakan Nabi itu ada yg bersifat kemanusiaan belaka dan tidak ada konsekuensi hukum; dan ada yg memang dilakukan sbg Nabi yg punya konsekuensi hukum. Jadi harus dibedakan antara sunnah ghairu tasyri’iyyah & sunnah tasyri’iyyah.

9. Perintah Nabi, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”, maka pertanyaanya, jikalau ada sahabat Nabi mendengar setelah takbir Nabi batuk 3 kali, apakah batuknya Nabi ini merupakan hal yg harus diikuti atau ini hanya sisi kemanusiaan Nabi yg kebetulan sdg batuk?

10. Pertanyaan ini akan menjadi panjang kalau contohnya saya ganti: apakah saat mengucapkan tasyahud telunjuk harus digerak-gerakkan atau cukup diam saja? Apakah laporan seorang sahabat yang melihat telunjuk Nabi bergerak itu merupakan hal yang harus kita ikuti atau tidak?

11. Pertanyaan di atas bisa kita lanjutkan: bagaimana menghilangkan najis dengan 7 kali basuh plus dengan tanah? Bisakah diganti dengan sabun? Anda mau berpegang kukuh pada teks, mau melihat konteks, atau gabungan keduanya?

12. Sekali lagi Jawaban dari berbagai pertanyaan di atas akan tergantung apakah anda memahami teks semata; atau anda mau melihat konteks saja; atau anda mau “nyetel” dengan pas antara pakai teks dan memahami konteksnya.

13. pandai memilah mana yang hadis dan mana yang budaya ketika membaca hadis. Bagaimanapun, hadis tidak hanya memuat doktrin agama, tetapi juga memuat kandungan budaya dan tradisi Arab yang menjelma dalam wujud Nabi Muhammad SAW.

14. Anjuran berbuka puasa pakai kurma itu apakah tidak boleh diganti dg kolak pisang misalnya? Bagi yg memahami teks, ya tetap harus dg kurma. Bagi yg memahami teks dan konteks, ya boleh keduanya. Intinya berbuka dg yg manis-manis.

15. Imam Nawawi berkata, “bahwa sudah keharusan mengikuti perkataan Nabi yang mengandung dimensi syariat, sementara yang berkaitan dengan permasalahan dunia yang didasarkan pertimbangan akal tidak mesti diikuti”.

16. Prof Dr KH Ali Mustafa Ya’qub (Allah yarham) pernah menulis hal ini dengan sangat baik:

Boleh jadi kita akan menganggap aneh apabila ada orang berkata: bahwa tidak semua yang berasal dari Rasulullah saw itu wajib kita ikuti. Namun anggapan aneh itu akan segera hilang manakala kita telah mengetahui tentang rincian apa yang berasal dari Rasulullah saw itu. Dalam disiplin ilmu hadis, apa yang berasal dari Rasulullah saw itu, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, dan sifat-sifat Nabi saw, baik sifat fisik maupun sifat non fisik disebut hadis. Para ulama ahli hadis berpendapat bahwa hadis itu sama dengan sunnah. Sementara para ahli hukum Islam berpendapat bahwa hadis mencakup empat aspek tadi, sedangkan sunnah hanya mencakup 3 aspek, yaitu, ucapan, perbuatan dan penetapan Nabi saw. Menurut para ahli hukum Islam sifat-sifat Nabi saw tidak disebut sunnah tetapi disebut hadis. Sedangkan Imam as-Syafi’i (W. 204 H.) berpendapat bahwa hadis yang shahih disebut sunnah maka bagi Imam as-Syafi’i semua sunnah adalah hadis tetapi tidak semua hadis adalah sunnah.Perbedaan pandangan ini berangkat dari pemikiran bahwa menurut para ahli hukum Islam yang menjadi sumber syariat hukum Islam adalah sunnah, yaitu: ucapan, perbuatan dan penetapan Nabi saw. Sementara menurut para ahli hadis semua yang berasal dari Nabi saw menjadi sumber ajaran Islam.

Sifat-sifat Nabi saw. yang oleh para ahli hukum Islam tidak dijadikan sumber syariat Islam, adalah sifat fisik Nabi saw., misalnya warna kulit beliau yang putih kemerah-merahan dan rambut beliau yang tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus. Begitu pula sifat non fisik Nabi saw, seperti kesukaan beliau untuk menyantap sayur labu air, menikmati kikil kambing dan lain sebagainya. Sifat-sifat seperti ini menurut ahli hukum Islam (al-Ushuliyun) tidak menjadi sumber syariat Islam. Artinya umat Islam tidak wajib mengikuti sifat-sifat Nabi saw. itu, sehingga apabila ada orang yang memakan sayur labu air ia tidak akan mendapatkan pahala dan orang yang tidak memakan sayur labu air juga tidak berdosa. Sementara bagi ahli-ahli hadis yang berpendapat bahwa semua yang berasal dari Nabi saw menjadi sumber ajaran Islam maka menyantap sayur labu air dan atau menikmati kikil kambing tentu ada rahasia di balik itu, karena Rasulullah saw. menyukainya.

Sosial dan Budaya

Lebih konkrit lagi kita dapat memilahkan apa yang berasal dari Nabi saw ini menjadi dua bagian, yang pertama adalah agama. Hadis-hadis yang berkaitan dengan agama (aqidah, ibadah dan akhlak ) umat Islam wajib mengikutinya, atau dengan kata lain hadis-hadis yang berkaitan dengan agama menjadi sumber syariat Islam. Contohnya adalah hadis-hadis tentang salat, zakat, puasa, haji, beraqidah, dan berakhlak dengan akhlak yang mulia. Tidak ada seorang ulama-pun berbeda pendapat dalam hal ini, bahwa semua hadis yang berkaitan dengan masalah tersebut menjadi sumber syariat Islam, dan umat Islam wajib mengikuti hal itu.

Yang kedua, apa yang berasal dari Nabi saw. dan hal itu berkaitan dengan sosial dan budaya. Sosial dalam pengertian keadaan masyarakat dan lingkungan pada masa Nabi saw., dan budaya Arab pada masa itu. Sebagai contoh hadis yang berkaitan dengan masalah sosial adalah perilaku Nabi saw. dan keluarga beliau ketika membuang air besar. Seperti diketahui ketika Nabi saw. sudah tinggal di Madinah beliau memiliki sembilan rumah dengan sembilan istri. Tampaknya tidak di semua rumah-rumah beliau ada toilet untuk buang air besar. Salah satu istri beliau Siti Aisyah mengatakan: bahwa bagi orang-orang Madinah, membuang air besar di dalam rumah itu adalah sesuatu yang menjijikan. Pertanyaannya kemudian adalah, di manakah Rasulullah saw. dan keluarga beliau membuang air besar?

Dalam riwayat-riwayat yang sahih banyak disebutkan bahwa Nabi saw. dan keluarga beliau membuang air besar pada malam hari di tengah padang pasir jauh dari lingkungan pemukiman. Inilah hadis Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah sosial, yaitu kondisi masyarakat Madinah yang pada saat itu rumah-rumah mereka tidak memiliki toilet untuk buang air besar. Pertanyaannya adalah, apakah kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. wajib mengikuti perilaku seperti itu, yaitu kita membuang air besar jauh dari rumah-rumah kita? Tampaknya tidak ada satupun ulama yang menganjurkan, apalagi mewajibkan umat Islam untuk melakukan hal i

Kendati demikian sementara ulama ada yang mengatakan bahwa semangat dari perilaku Nabi saw dalam membuang air besar itu adalah melakukannya di suatu tempat yang tidak dilihat oleh orang lain. Menurut pendapat ulama, orang masa kini yang membuang air besar di dalam toilet yang berada di rumahnya dan tidak dilihat oleh orang lain maka hal itu sudah masuk dalam wilayah mengikuti perilaku Nabi saw. Pemahaman yang seperti inilah yang kemudian dikenal dengan pemahaman kontekstual. Sementara melakukan buang air jauh dari tempat pemukiman disebut pemahaman tekstual.

Contoh lain, ketika Rasulullah saw. masih berada di Makkah. Beliau dan para sahabat ketika mengerjakan salat tetap memakai sandal. Seperti diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitab Sunan-nya, suatu pagi ketika Rasulullah saw. hendak mengimami salat subuh, beliau melepaskan sandalnya. Melihat perilaku Nabi saw ini para sahabat kemudian melepaskan sandal mereka. Setelah selesai salat Rasulullah saw. melihat para sahabat melepaskan sandal mereka. Beliau kemudian bertanya, “Mengapa kalian melepaskan sandal-sandal kalian?” Para sahabat serentak menjawab, ”Kami melihat Rasulullah saw. melepaskan sandal, oleh karena itu kami melepaskan sandal-sandal kami.” Rasulullah saw berkata, “Sebelum salat tadi saya diberi tahu Malaikat Jibril bahwa di dalam sandal saya ada najis, maka saya lepaskan sandal saya.”

Peristiwa ini menunjukan bahwa salat dengan memakai sandal di dalam masjid itu sudah menjadi hal yang biasa pada masa Nabi saw. hal ini dapat kita pahami karena masjid pada masa Nabi saw lantainya masih berupa pasir atau kerikil-kerikil kecil. Masjid adalah sepetak tanah dengan dibatasi tembok keliling berlantai tanah atau pasir dengan sedikit atap yang sederhana. Masjid dalam keadaan seperti ini pernah kami lihat di Riyadh, Saudi Arabia ketika kami datang pertama kali di kota itu pada bulan Maret 1976. Berbeda dengan keadaan masjid pada umumnya pada masa sekarang dengan lantai keramik atau marmer ditambah dengan karpet yang sangat empuk. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kita wajib mengikuti Nabi saw. dalam salat seperti itu, yaitu kita memakai sandal di dalam masjid sekarang ini. Tampaknya tidak ada satupun ulama yang membenarkan hal itu. Ini artinya bahwa memahami dan mengamalkan hadis secara tekstual terkadang justru akan menimbulkan sebuah kemungkaran. Boleh jadi para satpam dan petugas masjid sekarang akan memarahi jika kita salat di dalam masjid memakai sandal atau sepatu.

Agama Universal

Islam adalah agama yang universal (‘alamiah), tidak mengenal batas-batas etnis dan geografis. Islam berlaku untuk setiap masa dan tempat (Shalihun li kulli zamanin wa makan). Karenanya Islam tidak identik dengan Arab dan tidak Arab sentris. Dalam budaya berpakaian misalnya Islam tidak pernah mengamanatkan bentuk pakaian tertentu misalnya memakai jubah dan bersorban. Karenanya tidak ada hadis-hadis sahih yang menunjukan fadhilah (keutamaan) memakai jubah atau sorban. Bahwa Rasulullah saw. memakai sorban, itu adalah benar, berdasarkan hadis sahih. Namun agar dipahami bahwa Rasulullah saw. memakai sorban itu dalam kapasitasnya sebagai orang Arab, karena orang-orang musyrikin seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan sebagainya juga memakai sorban.

Dalam berpakaian, Islam hanya mengamanatkan kriterianya saja, yaitu yang diwajibkan adalah dengan rumus T-4, tutup aurat, tidak teransparan, tidak ketat, dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Tentang model dan bentuknya, Islam tidak membatasi apalagi melarang model pakaian apa saja. Apabila 4 kriteria tadi terpenuhi maka umat Islam dipersilahkan berpakaian yang ia sukai dan dianggap cocok untuk lingkungannya.

Semangat berlebihan

Belakangan ini ada kecenderungan sebagian anak muda yang ingin mengikuti perilaku Nabi saw. secara kaffah (totalitas), sehingga menurutnya apa yang berasal dari Nabi saw. tanpa terkecuali wajib diikuti. Anak-anak muda seperti ini menganggap orang Islam yang tidak memakai sorban dianggap tidak mengikuti Rasullulah saw. Kita menghargai semangat untuk mengikuti perilaku Nabi saw., tetapi hendaknya tidak sampai kebablasan. Dalam hal-hal yang berkaitan dalam agama, kita wajib mengikuti apa yang berasal dari Nabi saw. Namun demikian hal-hal yang berasal dari Nabi saw. dan itu berkaitan dengan sosial dan budaya kita tidak wajib mengikutinya. Siapa yang mengikuti budaya yang berasal dari Nabi saw. dipersilahkan dan siapa yang tidak mengikuti budaya dari Nabi saw. juga dipersilahkan. Karenanya kita dituntut untuk memiliki kearifan dalam memilahkan apa yang berasal dari Nabi saw., mana yang berkaitan dengan agama dan mana yang berkaitan dengan budaya. Apabila tidak demikian maka upaya mengikuti perilaku Nabi saw. yang kebablasan dapat menimbulkan sesuatu yang kontra produktif. https://majalahnabawi.com/hadis-antara-agama-dan-budaya/

17. Mari kita terus belajar, karena ternyata masih banyak yang harus kita pelajari, bukan? Yang hafal teks pun tetap harus membaca konteks. Yang pakai konteks, jangan tinggalkan teks. Inilah makna Iqra’: membaca yg tertulis dan tak tertulis.

Ditulis dalam agama, Inspirasi dan Motivasi

KONTRA NARASI

Oleh Dina Sulaeman

Aksi teror di Mako Brimob dan aksi teror di 3 gereja Surabaya, membuat kita berduka amat dalam. Mungkin, ada yang berpikir, adakah yang bisa dilakukan?

Untuk menangani mereka yang sudah terlanjur terpapar virus ekstrimisme, jelas sulit. Kita, orang biasa, mungkin berat melakukannya.

Tapi untuk mencegah generasi muda yang masih bersih dan sehat agar tidak terpapar virus itu, kita BISA, asal mau.

Pertama, kita lihat dulu, akar masalahnya dimana.

Dalam video yang saya upload ini, ada paparan menarik atas hasil penelitian yang dilakukan PPIM UIN Jakarta. Pada Sept-Okt 2017 mereka meneliti 2181orang (1522 siswa; 337 mahasiswa; 264 guru/dosen) di 34 provinsi.

Survei itu dilakukan untuk melihat bagaimana generasi Z (kelahiran 1996-2012) memandang agama. Salah satu karakter utama gen Z adalah mereka ini sangat aktif berinternet, rata-rata 3-5 jam sehari.

Hasil survei yang terpenting, di antaranya: sekitar 1/3 siswa Muslim percaya bahwa jihad adalah peperangan melawan nonmuslim, setuju bahwa orang murtad harus dibunuh, dan intoleran kepada minoritas itu bukan masalah.

Satu dari 5 siswa SETUJU bahwa aksi bom bunuh diri adalah jihad.

Penting digarisbawahi: darimana mereka mendapatkan pemahaman seperti ini? Ternyata 50,89% dari MEDSOS !

Di penelitian yang lain disebutkan bahwa setiap hari setidaknya 90 ribu konten bermuatan kekerasan dan ekstrimisme dimuat ke ranah Internet, oleh ISIS dan afiliasinya.

Bayangkan, ISIS saja menyebar 90 ribu konten terorisme perhari. Padahal masih banyak kelompok teror lainnya. Al Qaida, Al Nusra, Jaish al Islam, Jamaah Anshoru Tauhid/Daulah, dll. Betapa banyaknya! Belum lagi yang disampaikan secara langsung lewat pengajian-pengajian.

Konten mereka terutama adalah hoax soal Timteng dan politik-ekonomi dalam negeri. Mereka menanamkan ketakutan dan kebencian atas nama agama & rasisme, sehingga publik terhipnotis dan percaya pada doktrin-doktrin mereka selanjutnya.

Apa yang dapat kita (masyarakat sipil, orang biasa) lakukan untuk melawan semua itu dan melindungi generasi muda dari virus radikalisme/intoleran/ekstrimisme?

Satu yang PASTI: NARASI HARUS DILAWAN DENGAN KONTRA NARASI.

Narasi radikalisme/intolerasi/ekstrimisme harus dilawan dengan menyebarluaskan narasi kontra-nya, misalnya, kasih sayang, persaudaraan, toleransi.

Narasi kontra yang paling tepat untuk Indonesia yang majemuk ini adalah PANCASILA. Di dalamnya terkandung nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah (tidak mau menang sendiri), dan keadilan.

Ironis sekali, nilai-nilai Pancasila yang sedemikian dalam (dan sebenarnya bersesuaian dengan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin), hanya tinggal hafalan. Sudah saatnya kita menyebarkan nilai-nilai Pancasila melalui cara-cara yang memang ‘nyambung’ dengan gen Z (kaum muda).

Cara yang ‘nyambung’ itu apa? Sudah pasti, pakai kalimat-kalimat yang mudah dipahami. Jangan membully, mengejek, apalagi menceramahi. Gen Z bete banget sama narasi model begini.

Yang punya skill menggambar, bisa membuat komik atau karikatur yang kocak.

Yang bisa bikin lagu, buatlah lagu yang easy listening buat gen Z.

Yang aktif di institusi/keorganisasian, bisa membuat lomba-lomba seru untuk gen Z yang bisa membuat mereka mengenali nilai-nilai Pancasila.

Yang berkecimpung di dunia film, bisa membuat film yang bertema aktualisasi/implementasi nilai-nilai Pancasila.

Untuk film, artis Lola Amaria sudah memulainya. Dia bersama 4 rekannya (jadi ada 5 sutradara) membuat film berjudul LIMA. Menurut cerita teman-teman saya yang sudah menonton preview-nya, film ini amat menyentuh hati karena didasari kisah nyata. Kisahnya tentang sebuah keluarga yang bergelut menyelesaikan perbedaan di antara mereka dan keputusan-keputusan yang mereka ambil sangat bersesuaian dengan nilai-nilai Pancasila.

Film ini akan mulai tayang di bioskop tanggal 31 Mei, menyambut Hari Pancasila. Trailernya: https://www.youtube.com/watch?v=jF6WtWRR7EM

Mengingat film adalah proyek berbiaya mahal, tentu dukungan publik amat dibutuhkan, dengan cara menonton beramai-ramai, atau memprakarsai acara nobar di sekolah-sekolah.

Dan, banyak lagi yang bisa dilakukan masyarakat sipil. Misalnya, yang punya ilmu agama secara mendalam (mampu mengakses kitab), perlu terjun untuk melawan narasi ekstrim dari para da’i intoleran.

Bila takut/ragu, buat saja akun khusus lalu bergerilya di kalangan gen Z.

Mari kita jaga negeri ini dengan cara menegakkan kelima pilarnya, Pancasila. Lima silanya adalah kontra narasi bagi narasi radikalisme yang mengancam tegaknya NKRI.

#SaveNKRI
#PrayforIndonesia
#KitaLIMA
#GenerasiLIMA

Ditulis dalam agama

Berhati-Hati Memilih Pengajian

GIMANA SEORANG MUSLIM BISA JADI TERORIS ?

Oleh Muhammad Abdullah Ade

#Level 1.
Mereka ini awalnya adalah orang² baik yg berusaha ingin menjadi lebih baik dg ikut kelompok-kelompok pengajian/kajian. Disini mulai diajarkan aqidah yang sesat, yaitu aqidah mujasimah versi wahabi, seperti Allah berada diatas Arsy, Allah memiliki wajah dan tangan. Juga diajarkan tentang pembagian Tauhid menjadi tiga, Uluhiyah, Ubudiyah dan Asma wasifat.

#Level 2.
Oleh guru ngaji kelompok pengajiannya ditanamkanlah mana sikap² yg sesuai sunnah nabi (berdasarkan versi doktrin mrk) , dan mana yg tidak nyunah. Mulai dari makan minum sambil duduk, tidur berbaring ke kanan. Kalo ada laler masuk ke minuman, tuh laler dicelupin dulu ke air baru airnya bisa diminum, dan sebagainya, kemudian ngerembet ke celana cingkrang, pake jenggot, jidat item, kalau ngobrol dg lawan jenis gak boleh kontak mata. Walhasil hal itu ditanamkan terus hingga mereka yg melakukannya merasa lebih “nyunnah” dari yg lain. #Tidak ada yang salah dengan pengamalan sunnahnya, yang menjadi masalah adalah ketika si pengamal sunnah menjadi “merasa paling islam” dibandingkan muslim lain yang belum atau tidak mengamalkannya.

Belajar agama dg orang² ini adalah SAMI’NA WA ATO’NA. nurut dg ajaran mrk sama dg nurut ajaran Nabi. Kritis dilarang. Beda cara beragama berarti ngga sesuai sunnah nabi. Krn sumber sunnah Nabi harus berasal dari golongan yg sepemikiran dg mrk. Mau dia kiyai, mau dia profesor lulusan Mesir, gak peduli. Beda = Ngga sunnah. Disini mereka sudah mulai diajarkan untuk tidak bergaul dengan orang-orang atau kelompok yang mereka tuduh ahli bid’ah, karena menurut mereke bergaul dengan mereka akan menjauhkan diri dari i’tiba kepada Rasulullah.

Jangan heran kalau ulama besar sekaliber Quraish Shihab, KH Said Aqil, Gus Mus, dll dianggap kalah ilmu dg ustad² yg ngajinya seminggu sekali dg murobi yg ilmunya 1 tahun di atas dia. Sekalipun dia mualaf (orang yg baru kenal Islam beberapa tahun saja).

#Level 3.
Dari sikap paling sesuai sunnah, ngerembet ke sikap lebih Islami dari yg lain. Mereka hobbinya teriak² “KAMI UMAT ISLAM”. Seolah-olah agama ini hanya mereka yg punya, muslim yg lain ngontrak doang. Karena kurang Islam.
Kalau udah begini anda beda pilihan/pendapat dg mereka langsung dianggap sesat, kafir, bid’ah dan syirik. Kadang thd orang tua/keluarganya sendiri pun sering konflik hny krn beda cara beragama.

#Level 4.
Dari menolak perbedaan, sampai menganggap mereka yg beda itu musuh. Walau pun mereka satu agama. Mereka merasa mewakili “Umat Islam” yg sedang dizolimi hingga harus melawan. Musuh kelompok dianggap musuh agama. Hingga membuat isu hoax/fitnah/kebencian thd kelompok2 yg beda dianggap bagian dari perjuangan agama.

#Level 5.
Kebencian yg mendalam thd kelompok yg berbeda, yg dianggap kafir, dianggap dzolim, berubah menjadi perilaku keras yg berujung terorisme. Membunuh mereka dianggap jihad dan mereka bangga melakukannya. Bahkan mereka meyakini betul sebuah hadist yang menyatakan bahwa “tidak memusuhi orang kafir, maka akan menjadi kafir”. 😦

Embrio kelompok-kelompok ini mulai dari Rohis di sekolah² , kampus², kegiatan² masjid.
Sasarannya adalah orang² baik yg polos. Mereka memilih serius belajar agama dan ingin jadi pribadi yg lebih baik. Mereka mengira guru² yg mengajarkan agama adalah orang² tulus, ikhlas & tidak punya kepentingan apa pun spt dirinya. Guru yg sama yg mengajarkan ma’rifatullah, ma’rifaturrasul, akhlaq, shirah nabawi, tauhid adalah orang yg sama yg juga mengajarkan kebencian dan membunuh saudaranya yg tidak sepaham sbg ibadah. Sehingga ajaran kebenaran dan kebatilan terlihat sama.

***************************************

Saran saya, gunakan “AKAL” mu saat akan berguru ke mana pun. Dengan akal kita bisa membedakan mana yg baik yg bisa diambil ibroh/pelajaran, dan mana yg penting untuk dikritisi. Meski pun itu keluar dari GURU NGAJI. Akal itulah yg membedakanmu dg makhluk lainnya, hingga ketika kamu belajar kamu menjadi “Manusia” bukan malah menjadi “Domba” yg dicocok hidungnya. Hidupmu spt zombie yg dikendalikan orang lain. Seperti yang dikatakan sayyidina Ali KWH, “Kadar pemahaman agama seseorang itu tergantung akalnya”.

Kamu diperintahkan Belajar Agama untuk menjadi menusia yg berilmu dan berahlak. Karna ciri orang berilmu itu pasti BIJAK & TUJUAN AKHIR BERILMU AGAMA adalah TAWADLU & BERAKHLAQ MULIA thd sesama. Bukan malah semakin sombong dan buas.

Dalam sebuah Hadist Qudsi dikatakan bahwa : “Man Arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, wa man arofa Robbahu faqod jahilan nafsahu” artinya “Barang siapa yg sudah mengenal dirinya, maka dia sudah mengenal Tuhan Nya (Robb Nya), dan barang siapa yang sudah mengenal Tuhan Nya (Robb Nya), maka akan semakin merasa bodoh dirinya”.

Ditulis dalam agama

Sabar Menghadapi Toxic People

Toxic People , jika diterjemahkan adalah manusia racun atau orang beracun, dikategorikan sebagai orang-orang yang menjadikan adu domba, kebencian, dan dengki sebagai kebiasaan  perilakunya dan sifatnya mendalam. Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Orang seperti ini akan tetap ada di manapun dan kapanpun. Oleh karena itu, dimanapun kita berada harus siap jika suatu saat ketemu dengan orang ini harus menjadi orang yang sabar, baik dalam berpikir, berbicara maupun bertindak. Karena apapun yang kita lakukan, akan menjadi perhatiannya. JIka kita berbuat kebaikan atau sesuatu prestasi dia akan mengacuhkan atau meremehkan dan sebisa mungkin meredam agar orang lain tak mengetahuinya. Sebaliknya jika kita memiliki kekurangan pasti akan segera disebarkan bahkan ditambah-tambah.

Oleh karena itu tak heran jika ada sebuah ungkapan ” kita hidup di mana ketika berkonflik dengan satu orang, digosipi lima orang dan dibenci orang sekampung”.

Kita tidak perlu ngotot jika berhadapan dengan toxic people, karena jikapun kita memberi penjelasan panjang lebar, maka dia tidak akan peduli  karena fokusnya tetap mencari kesalahan kita.  Bukan mencari solusi tetapi problem yang terus menerus.

Ini adalah realita. Kita harus sadar bahwa kita tak bisa membuat semua orang senang, dan kita tak bisa memaksa agar orang senang kepada kita. Dan biarkan realita itu berjalan apa adanya, biarkan hidup ini mengalir sesuai kehendak Sang Pencipta. Kita hanya bisa berharap, berusaha dan berdoa agar bisa menghadapinya tanpa harus terbawa arus permainan toxic people .

Nah saya menemukan sebuah tulisan di twitter pagi ini sebagai berikut :

Ketika orang yang beracun tidak dapat lagi mengendalikan Anda, mereka akan mencoba untuk mengendalikan bagaimana orang lain melihat Anda.
Kesalahan informasi akan terasa tidak adil, tetapi tetap berada di atasnya, percaya bahwa orang lain pada akhirnya akan melihat kebenaran, seperti yang Anda lakukan.
Jadilah berani, jujur, berdiri tegap dan tetap di atasnya.

Tulisan itu saya dapat dari Twitter @Vala Asfhar

When a toxic person can no longer control you, they will try to control how others see you.
The misinformation will feel unfair, but stay above it, trusting that other people will eventually see the truth, just like you did.
Be brave, be honest, stand tall and stay above it.

 

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi

Daripada Mengenang Yang Sudah Hilang

Saya teringat lirik salah satu lagu anak sebagai berikut :”Balonku ada limaRupa-rupa warnanya Hijau, kuning, kelabu Merah muda dan biru Meletus balon hijau DOR!Hatiku sangat kacau Balonku tinggal empat Kupegang erat-erat. Memang hanya sebuah lagu anak, akan tetapi mengajarkan filosopi yang mendalam. Lagu balonku ada lima mengajarkan kita untuk mempertahan kan yang masih ada sebagai fokus utama bukan larut dalam kesedihan atau kesusahan karena kehilangan apa yang sudah tidak ada ataupun hilang. Hati yang sangat kacau hanyalah sebuah reaksi pertama, atau refleks karena sesuatu yang sesuai harapan, atau berubahnya suatu kondisi yang tak menyennagkan bagi kita. Namun, cukuplah itu hanya reaksi sesaat, jangan diperpanjang. Untuk selanjutnya cobalah menjadi realistis, apa yang masih kita miliki saat ini itu akan membuat kita jauh lebih nyaman .

Ada cerita tentang sebuah peristiwa di sebuah peternakan di desa, dimana ada seorang peternaka memiliki 10 ekor kambing, dan biasa menggembala kambing-kambing itu di padang rumput. Pada suatu sore  pemilik kambing ini terkejut karena saat akan mengandangkan kambing-kambingnya, ternyata jumlahnya kurang satu dan hanya ada sembilan ekor. Sepanjang malam ia pun tak bisa tidur karena hati dan kepalanya sibuk memikirkan seekor kambing yang hilang. Bayangkan jika kehidupan kita seperti itu , bagaimana mau hidup bahagia ?

Itu hanya sebuah metafora, gambaran jika kita kehilangan sesuatu, maka yang menjadi fokus kita adalah yang masih kita miliki bukan apa yang telah hilang. Fokus pada yang  masih ada bisa berupa segala upaya untuk mencari alternatif pengganti yang hilang , bisa dengan membeli barang yang baru misalnya. Dan bisa juga dengan lebih mencintai dan menghargai apa yang masih ada.

Saya memiliki pengalaman pribadi yang terkait hal ini. Ini terkait batu cincin kesayangan saya. Saya senang memakai batu cincin ametyst dan pada saat mengirim surat di kantor pos, batu itu terjatuh dari ringnya tidak tahu jatuh di mana . Sangat saya sayangkan sebenarnya. Lalu pada kejadian lain, saat saya sedang membersihkan lingkungan pekarangan rumah, saya saat itu memakai cincin batu sulaiman, dan jatuh tak ditemukan lagi. reaksi pertama saya ya pastinya sedih, tapi, ketika mencari atau menemukannya adalah mustahil, maka saya tidak ada gunanya memikirkan apa yang sudah hilang itu. Akan lebih baik bagi saya untuk lebih fokus pada apa yang masih saya miliki, salah satunya ya batu cincin fosfor yang ringnya sudah lapuk ini. Dan saya akan berusha lebih menghargainya dengan membelikan ring baru. Dan saya bahagia bisa tetap memakainya sepanjang hari.

Ini hanya contoh sederhana saja. Kita bisa mengaplikasinya pada kehidupan kita secara lebih luas dan kompleks. Bisa berupa peluang karir, lowongan pekerjaan, peluang usaha atau apa saja yang berharga bagi hidup kita. Tentu saja kehilangan sesuatu adalah hal yang mungkin terjadi, akan tetapi fokus kepada apa yang masih kita miliki sebaiknya tetap sebagai motivasi utama kita dalam berpikir dan bertindak. Bukan mengenang apa yang telah hilang.

 

 

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi

Pelajaran Dari Permainan Catur

Smangat pagi sobat, sharing pagi ini kita belajar filosofi catur. Catur dalam kehidupan, sungguh bermakna dalam jika kita terapkan. Mulai dari bersikap pantang menyerah dan mengakui kekalahan, selalu ingat dan peduli pada orang-orang yang telah membantu kita sampai di titik tertentu.
1. Jangan Meremehkan Kemampuan Orang Lain
Dalam permainan catur, ada bidak paling depan berjajar mengawal para bidak prawira. Bidak tersebut bernama pion. Kalau dianalogikan sebagai manusia, bidak memiliki tubuh kecil dan wajib maju terlebih dulu sebelum sang mentri, kuda, benteng, dan raja beraksi.
Dalam permainannya, bidak bisa saja berganti wajah dan tubuh menjadi seorang mentri, kuda, benteng, ataupun patih. Disaat-saat inilah, kita diharapkan untuk tidak meremehkan kemampuan orang lain. Suatu saat nanti, pasti dia mengalami titik tertinggi, yakni kesuksesan hakiki.
2. Selalu Ingat dan Peduli pada Orang yang Telah Membantu Kita
Kita ambil contoh seperti bidak pion yang berhasil merubah diri tadi. Awalnya, pion ini melaju biasa-biasa saja, tanpa peduli rintangan di depannya. Namun, dalam proses merubah diri tersebut, pastilah ada bantuan dari bidak-bidak lain yang mencoba melindunginya.
Nah, bantuan-bantuan inilah yang sering kita lupakan. Sebagai manusia yang baik, tentu kita tidak boleh melupakan orang-orang yang berperan membawa kita sampai ke titik puncak. Orang-orang tadi bisa keluarga, teman, atau kerabat, yang membantu kita meraih kesuksesan.
3. Jadilah Seperti Raja yang Tetap Tenang Meski Masalah Mendera
Dalam posisi skakmat, raja tetap tenang dan bisa terlindungi oleh bidak-bidak lainnya. Sikap raja yang tenang dan analitis dalam menghadapi masalah, begitu memendam pesan mendalam. Bahkan sampai di titik tertentu, sang raja masih bisa “remis” alias tidak kalah dan tidak menang.
Hal ini bisa kita terapkan dalam kehidupan kita. Di mana, saat kita terpojok, saat kita tertekan, dan saat kita punya banyak masalah, kita masih tetap bisa bertahan dan mencari jalan keluarnya. Ingatlah, bahwa Tuhan tidak pernah menguji hamba-Nya melebihi kapasitas orang tersebut.
4. Bersatu dalam Menghadapi Rintangan
Permainan catur adalah permainan yang digawangi oleh satu orang pemain. Tetapi, dalam praktik menyerang dan bertahan saat bermain, sang pemain utama membutuhkan banyak sekali bidak untuk mengatur strategi. Bidak satu dengan yang lainnya saling bertempur untuk berperang.
Nah, dalam kondisi ini, bidak-bidak ini saling bersatu teguh untuk melancarkan strategi perang yang mematikan. Karena itulah, kita bisa mampu mengalahkan setiap rintangan, salah satu langkah kuat adalah dengan bersatu bersama-sama menghadapinya.
5. Terus dan Terus Maju
Ketika ingin mengalahkan strategi dan pertahanan lawan, satu atau dua langkah saja tidaklah cukup. Sang pemain catur wajib melancarkan langkah bertahan dan menyerang, secara dinamis dan kreatif. Di sinilah pesan moralnya, bahwa kemauan yang keras wajib diasah demi kemenangan.
Kita bisa terapkan dalam kehidupan, di saat kita menghadapi kesulitan, kita diwajibkan tetap tenang dan terus maju. Satu atau dua langkah saja tidak cukup, maka kita harus terus maju sampai ke titik darah penghabisan. Itulah yang disebut dengan sikap pantang menyerah dan kerja keras.

Nah, itulah dia sederet filosofi catur yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat pas kalau mengadopsi permainan catur ini, mengingat perjuangan dalam hidup kita sama persis ketika berjuang di papan catur yang penuh lika-liku dan tantangan.

Repost dari FB Restoran Taman Pringsewu 

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi

Ketika Mendengar Kata Orang Lain

Smangat pagi sobat, sharing pagi ini seputar jangan takut mencoba hal Baru..Seorang profesor sedang mengadakan penelitian terhadap beberapa ekor monyet.
Monyet A dan monyet B dimasukkan kesebuah ruangan tertutup yang didalamnya diletakkan sebatang tiang, dimana pada puncak tiang itu terdapat satan dan pisang.
Monyet A mulai memanjat tiang itu, pada saat yg bersamaan sang profesor menyiramkan air sehingga terpelesetlah monyet A dan jatuh.
Monyet A berusaha untuk memanjat lagi, tapi krn licin, kembali dia terjatuh, begitu seterusnya, sehingga monyet A menyerah.
Kemudian giliran monyet B, melakukan hal yg sama dengan monyet A, berulang kali mencoba dan jatuh, menyerah jugalah monyet B.
Kemudian, sang profesor memasukkan monyet C kedalam ruangan tersebut.
Monyet C ingin memanjat tiang tsb, sebelum hal itu terjadi, monyet A dan monyet B dengan semangat menasehati monyet C untuk tidak mengalami hal yang konyol yaitu terpeleset dan jatuh.
“Percuma kamu memanjat tiang itu, kami berdua sudah mencoba berulang kali tetapi selalu gagal”
Akhirnya monyet C menuruti nasehat kedua monyet itu, dia tidak berusaha mencoba memanjat lebih dahulu.

Kemudian sang profesor mengeluarkan monyet A dan B, dimasukkannyalah monyet D dan monyet E.
Monyet D dan monyet E ingin sekali memanjat tiang itu, tetapi monyet C mencoba menasehati mereka untuk tidak sekali-kali memanjatnya kalau tidak ingin terpeleset dan jatuh.
Monyet D mendengar dan mematuhi nasehat tsb, dia tidak berusaha untuk memanjat.
Tapi lain halnya dengan monyet E, dia tidak mendengarkan nasehat itu, dia tidak terpengaruh dengan nasehat itu, dia mulai mencoba untuk memanjat.
“Apa salahnya mencoba” pikir monyet E Karena sang profesor tidak memberi air lagi pada tiang itu, monyet E akhirnya dapat mencapai puncak dan mendapatkan pisang.

Apa moral cerita ini?

Ada beberapa karakter yang dapat kita jumpai.
Monyet A dan monyet B:
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter dengan mudahnya menyerah kalah dan dengan mudahnya mempengaruhi orang lain untuk tidak berusaha, menanamkan input-2 negatif kepada orang lain.

Padahal : 99% kita-2 yang merasa gagal sebetulnya belum tentu gagal hanya saja kita cepat menyerah.

Sangat disayangkan bahwa dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh orang-2 hebat yang potensial tetapi terlalu cepat menyerah.
Banyak dari kita yang keburu sudah mati sebelum mencoba menggali seluruh potensi yang ada pada diri kita.

Monyet C dan monyet D :
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter mudah sekali percaya dengan input-2 negatif yang dia terima, tanpa mau bersudah-susah untuk meraih kesuksesan, orang-2 yang takut gagal, padahal belum mencoba.
Kita cenderung mengikuti falsafah Jan Spoelman “Kalau ragu, lebih baik tidak usah dilakukan”
Jika kita tidak pernah mencoba, kita sudah pasti tidak akan pernah berhasil. Kita berjuang bukan dengan kepandaian, tetapi dengan kegigihan.

Monyet E:
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter tidak mudah terpengaruh dengan input-2 negatif, orang yang selalu berjuang untuk mendapatkan kesuksesan, berani mencoba, tidak takut gagal Tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak pernah mengalami kegagalan. Orang yang sukses selalu bangkit kembali meskipun sudah jatuh. Kalau kita ingin berhasil, kita harus berani mengambil RESIKO.
Have a positive day!

Copas dari FB Pringgading Purwokerto 1

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi

Wadah Menampung Rezeki

Pagi ini saya terinspirasi oleh sebuah gambar diagram yang dibuat oleh seorang teman ( Warkun W) seperti ini.

hujan

Yang saya baca dari ilustrasi itu adalah tentang hujan yang diibaratkan sebagai sebuah rezeki. Dan orang yang menampung air hujan , baik banyaknya tergantung dari wadah yang disiapkan oleh masing-masing. Wadah adalah usaha ekstra.

Jadi jika kita menginginkan bisa menampung air hujan dengan jumlah yang semakin banyak , maka sudah seharusnya kita harus  menyiapkan wadah sebesar-besarnya yang kita mampu .

Dan satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah tidak tertukarnya antara jumlah air hujan yang ditampung dengan pemiliknya yang menyiapkan wadah itu, jika kita menampung dengan wadah yang besar maka peluang kita sangat besar untuk mendapat curahan atau hasil tampungan yang lebih besar , dan tidak mungkin peluang itu tertukar dengan peluang orang yang menyiapkan wadah dengan ukuran lebih kecil.

Jika rezeki  itu kita ibaratkan dengan air hujan, maka semakin giat dan usaha ekstra orang untuk mendapatkannya maka dia akan memiliki peluang paling besar mendapatkan yang terbanyak dan terbaik. Orang yang melakukan usaha ekstra akan memiliki rezeki tersendiri yang berbeda dan tak akan tertukar dengan orang biasa-biasa saja dalam berusaha.

Lalu usaha ekstra yang dimaksud itu apa ? Usaha ekstra adalah teknik atau kiat-kiat khusus atau cara kreatif yang berbeda dengan apa yang dikenal oleh kebanyakan orang dan doa, ingat doa adalah sumber kekuatan ekstra yang bisa mempengaruhi berhasilnya atau tidaknya suatu usaha. Yakinlah dengan usaha ekstra ini, kita kan mendapat peluang yang besar untuk memperoleh rezeki yang besar dibanding yang melakukan dengan cara-cara biasa.

Sudah seberapa keraskah usaha kamu ? Jangan lupa diringi dengan doa dan beramal salih ya.

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi

Menggabungkan Teori Menarik dan Teori 9/10

Pernah mendengar teori menarik versi The secret ? Menurut teori ini , apa saja yang kita pikirkan , baik benda, baik buruknya sesuatu dan sebagainya , ibarat pemancar sinyal ke semesta yang pada akhirnya akan mendatangkan apa yang kita pikirkan itu ke dalam kehidupan kita. Penjelasan sederhananya seperti ini, misalnya jika kita membenci sesuatu benda , dan banyak waktu yang kita curahkan untuk memikirkannya, maka secara tidak langsung kita sedang memanggil benda yang kita benci itu lebih lebih banyak lagi ke dalam kehidupan kita , sebaliknya jika kita memikirkan sesuatu yang kita suka , maka sebenarnya kita sedang mengundang apa yang kita suka itu untuk hadir kepada kita.

Inilah pentingnya kita berpikir positif, karena akan memancing hal postif untuk hadir ke dalam kehidupan kita lebih banyak lagi. Tetapi sebaliknya jika kita memikirkan keburukan atau sesuatu yang negatif maka yang akan kita alami adalah hadirnya banyak keburukan dan hal negatif itu.

Ternyata pembuktian teori ini tak terlalu rumit kok. Contohnya dengan aktivitas kita di dunia maya kita bisa dengan mudah membuktikannya dengan contoh yang lebih sederhana. Jika kita sering membuka situs tertentu, contoh situ jual beli online, kita sering mencari data tentang barang tertentu misalnya gelang , ketika kita sedang tidak membuka situs itu , atau tidak sedang search barang itu, maka tawaran berupa gelang akan selalu hadir kepada kita, akan muncul secara sendirinya  untuk masuk ke link jual beli gelang , sesuatu yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi situsnya, meskipun kita sedang membuka situs berita. Ini kejadian nyata yang saya alami. Ketika dalam seminggu ini saya mencari info tentang gelang.

Hal-hal sederhana seperti kasus ” gelang ” yang saya alami itu sebenarnya hanya salah satu saja, karena pada dasarnya kehidupan kita berjalan, atau menurut Rondha Byrne pencetus teori The Secret mengatakan ” cara semesta bekerja” dengan menurut apa yang kita pikirkan , persepsikan dan ucapkan .

Nah supaya kita mendapatkan sesuatu yang baik dalam hidup kita, ini menjadi salah satu metode untuk mencapai hidup bahagia, yaitu berpikir tentang hal-hal yang baik, mempersepsi sesuatu dari sudut pandang positif, dan mengucapkan kata-kata yang baik. Dan jadikan kebiasan dalam berpikir dan bertindak , maka insya Allah kebaikan akan selalu menghampiri kita . Termasuk ketika kita sedang ditimpa sesuatu kemalangan atau musibah atau sesuatu yang tak kita sukai, reaksi yang baik dan kata-kata yang baik itu bisa menetralkan sesuatu yang negatif menjadi energi positif, bukan sebaliknya saat mendapat hal buruk kita berreaksi negatif maka kita semakin banyak lagi mendapat sesuatu yang negatif lainnya ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Maka ketika jatuh, segeralah bangkit dan maju , yaitu dengan reaksi yang positif. Kalau ini berdasarkan teori 9/10. Teori yang mengatakan bahwa 90 % keadaan yang bisa kita kendalikan adalah reaksi kita sendiri atau bertindak terhadap suatu kejadian adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri kita. sedangkan sesutu yang tak bisa kita kendalikan hanya 10 % yaitu segala kejadian yang diluar kemampuan kita mengendalikannya atau sesuatu yang berasal dari luar.

Saya rasa sangat ideal jika menggabungkan dua teori ini, terori menarik dan teori 9/10 . Teori menarik menstimulasi tentang segala sesuatu yang kemungkinan terjadi kepada kita , kita tentu berharap tentang segala sesuatu yang baik. Sedangkan terori 9/10 adalah bagaimana kita memanajemen diri bertindak terhadap sesuatu yang terjadi kepada kita atau yang kita alami.

Ditulis dalam Inspirasi dan Motivasi
Kota Baru Purwokerto
Ikuti saya di Twitter
Statistik Blog
  • 47,456 hits
Data Kunjungan per 16-02-2017
Flag Counter
Kalender 2017
Juli 2018
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031